BERITA TERKINI
ADB: Harga Minyak Dunia yang Masih Tinggi Berisiko Dorong Inflasi Pangan

ADB: Harga Minyak Dunia yang Masih Tinggi Berisiko Dorong Inflasi Pangan

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan harga minyak dunia masih akan bertahan tinggi dalam waktu dekat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan inflasi, termasuk pada komoditas pangan.

Peringatan itu disampaikan ADB dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026. Dalam laporan tersebut, ADB menilai konflik di Timur Tengah tidak hanya mendorong kenaikan harga energi, tetapi juga berisiko menimbulkan gangguan pada pasar pupuk.

ADB menyebut gangguan di pasar pupuk dapat menambah tekanan terhadap inflasi pangan secara global. ADB juga memperkirakan inflasi di kawasan Asia Pasifik akan meningkat pada 2026.

Secara regional, inflasi diproyeksikan naik menjadi 3,6% pada 2026, dari 3% pada 2025. Inflasi diperkirakan masih berlanjut pada 2027, meski menurun ke level 3,4%.

Untuk Indonesia, ADB memperkirakan inflasi pada 2026 mencapai 2,5%, meningkat dibandingkan 2025 yang tercatat 1,9%. Proyeksi ini sejalan dengan asumsi makro inflasi dalam APBN 2026 sebesar 2,5%. ADB juga memperkirakan inflasi Indonesia sebesar 2,5% berlanjut pada 2027.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia hingga Maret 2026 sebesar 3,48%. Penyumbang utama inflasi berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Berdasarkan komponennya, inflasi tertinggi secara tahunan tercatat pada kelompok harga diatur pemerintah sebesar 6,08%. Pemicu inflasi pada komponen ini antara lain tarif listrik serta sigaret kretek mesin dan sigaret kretek pangan.

Komponen harga bergejolak (pangan) juga mengalami inflasi tahunan sebesar 4,24%. Sejumlah komoditas yang disebut mendorong inflasi pangan antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras.

BPS menyatakan dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah terhadap laju inflasi baru dapat terlihat pada laporan inflasi Mei 2026.